Thursday, February 11, 2016

Perbedaan Nama dan Menu Makanan Ini Kadang Bikin Kamu Ketawa

*peringatan : tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis tanpa ada maksud untuk menyinggung SARA atau pun merugikan pihak manapun, hehe (seru-seruan aja bray)

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis selama menuntut ilmu di kota Malang, tepatnya Universitas Brawijaya. Nah sebagai anak rantau, pasti bagi setiap orang akan mengalami yang namanya shock culture (gegar budaya), dimana kita akan menemukan banyak hal yang baru kita ketahui, mulai dari yang unik, aneh, sampai mengagumkan yang tidak kita temui di kota kelahiran kita.

Salah satu perbedaan yang sempat penulis temukan semasa jadi anak rantau adalah perbedaan sebutan untuk beberapa makanan, yang sebenarnya memiliki menu yang sama dengan kota dimana penulis tinggal. Begitu pun sebaliknya ada yang nama atau sebutan makanannya sama, tetapi menunya berbeda. 

Berikut ini adalah perbedaan nama dan menu beberapa makanan di kota Malang dibandingkan dengan kota-kota lain, termasuk Jakarta. Cekidot !!


1. Martabak vs Terang Bulan

Kalo denger kata Martabak, kayanya hampir semua orang tau makanan ini. Tapi ada yang tahu gak apa itu Terang Bulan? 


Ini Martabak Telor

Nah Ini Martabak Manis atau bisa juga disebut Terang Bulan.


Yak, terang bulan itu sama dengan martabak manis. Kalo ngomongin martabak, hampir di setiap daerah seluruh Indonesia ada jajanan (liat fotonya aja udah ngiler) ini. Makanan ini juga ada dua macam yang biasa kita kenal, yaitu ada martabak manis, (yang dengan berbagai rasa seperti coklat, keju, kacang, susu, ketan, dan lain-lain) dan ada martabak telor (kalo special telornya dua dan pake telor bebek). Tapi taukah kamu di daerah Jawa Timur (atau mungkin juga di daerah lain), misalnya kota Malang, ada sedikit perbedaan nama untuk makanan yang enak disantap pas malam hari ini. Kalau kamu bilang:

Mas, beli martabak keju satu, ya!”

What? Martabak keju?”, kata si penjual.

Si tukang martabak itu mungkin akan bingung. Karena ternyata sebutan untuk martabak manis di beberapa kota atau daerah tertentu adalah TERANG BULAN. Waktu penulis pertama kali ke Malang dan lihat ada tulisan “Martabak dan Terang Bulan”, jujur jadi penasaran juga. Pas tau, eh ternyata itu martabak manis. Jadi kalau kamu mau beli maratabak keju bilang aja :

Mas, terang bulan keju satu, ya!”

Mungkin si penjual akan bilang, 
Oke siap!”,  hehe…


2. Rujak Buah/Manis vs Rujak Cingur
Rujak Buah/Manis

Rujak Cingur Jawa Timur


Saya adalah penggemar berat rujak (rujak buah yang pake sambel gula merah itu ya, yang buahnya nanas, bengkoang, timun, kedondong, mangga, dll). Suatu hari ketika penulis ingin belajar bareng temen semasa kuliah di Malang, penulis minta dibawakan rujak. 
Hai Mawar (nama samaran), besok aku ke kosmu yaa mau belajar mata kuliah yang kemaren.”
“Yuk, dateng aja, nitip bawain rujak ya, hehe”
“Oh rujak. Ok siap!”
Keesokan harinya datanglah si teman tadi dengan membawa dua bungkus rujak. Dengan hati penuh perasaan bahagia tak terhingga saya membuka bungkusan itu dan ternyataaa JENG JENG….!!!!
“ Lah kok? Ini apa?”
“Rujak kan? Katanya minta rujak”
“Bukaaan ini mah gado-gado.”
Tak disangka tak dinyana, benar si teman membawa rujak, tapi ditambah CINGUR, alias RUJAK CINGUR. Sejak saat itu, penulis mendapat hikmah bawa kalau mau sebut rujak, harus ditambah dengan BUAH atau MANIS. karena arti Rujak untuk orang-orang Jawa Timur dan sekitarnya adalah Rujak Cingur, sedangkan rujak yang penulis maksud, disana disebut dengan Rujak Buah atau Rujak Manis.


3. Otak-otak  
Otak-otak juga termasuk salah satu makanan yang tidak asing di telinga. Kalau kata Wikipedia sih "otak-otak merupakan makanan yang terbuat dari daging tengiri cincang yang dibungkus dengan daun pisang, dipanggang, dan disajikan dengan kuah asam pedas." Otak-otak memang banyak jenisnya, salah duanya seperti ini:
Otak-otak ini biasa di jual di pasar atau warung tempat ibu-ibu belanja.


Kalo yang ini otak-otak jajanan SD

Suatu hari (cerita lagi, hehe) penulis pernah diundang makan bareng oleh teman se-kampus, di rumahnya. Pas mau nyendok nasi, si teman bilang:
“Ayo, makan, lauknya ada otak-otak nih.”
“ (saya mengangguk)”
Waktu itu yang ada di pikiran penulis adalah otak-otak yang ada di dua gambar sebelumnya. Tapi pas di meja makan, mata penulis langsung menjelajah untuk mencari di mana si otak-otak itu berada. Karena penulis merasa tidak ada otak-otak disitu. Eh gataunya otak-otaknya ini, hehe :
Otak-otak bandeng

Ini namanya otak-otak bandeng. Penulis aja yang baru tau kali yaa.



    4. Nasi goreng pake saos.
 
Nasi Goreng Arema
Mungkin sebagian orang pernah makan nasi goreng pake saos, tapi untuk menu nasi goreng di pinggiran Jakarta, masih jarang bahkan hampir ga ada yang gorengnya bener-bener pake saos. Nah di Malang, nasi goreng yang akan kamu temui di pinggir-pinggir jalan pasti dikasih saos (kecuali kita pesen dulu mau pake atau nggak). Bagi saya ini masih agak kurang cocok di lidah, saya lebih suka nasi goreng yang pedesnya pake bumbu cabe atau sambel terus di kasih kecap, hehe.

      
    5. Bakso Pake Lontong
 
Bakso AREMA


Hah? Bakso pake lontong? Hmm apa rasanya yaa? Bagi beberapa orang mungkin sudah familiar dengan menu ini, terutama di kawasan kota Malang dan sekitarnya. Kota Malang yang juga terkenal dengan bakso ini punya menu unik, dimana dalam menu baksonya juga bisa disajikan dengan lontong. Bagi orang yang tinggal di kota-kota tersebut mungkin sudah biasa, tapi bagi beberapa pendatang dari kota lain (seperti saya misalnya), masih agak aneh. Meskipun menu baksonya Kota Malang memang Top banget.

Itulah sedikit perbedaan unik tentang menu dan nama makanan antar daerah di negara kita, Indonesia. Hal ini sangat menggambarkan bahwa betapa kaya budaya negara kita dan semua itu harus dilestarikan, termasuk juga kulinernya. Makanan apa yang kita suka, itu kembali lagi masalah selera dan kebiasaan lidah kita masing-masing. Yang penting menu khas kuliner Indonesia harus tetap kita jaga dan lestarikan yaa.

Tuesday, February 2, 2016

Inilah 6 Hal yang Membuat Kamu Ingin Berpuisi


Puisi, syair, atau kata-kata indah pasti akan sangat menyentuh apabila saat kita membacanya sesuai dengan situasi dan kondisi kita saat itu. Mungkin tidak semua orang menyukai seni bersastra seperti puisi, namun ada beberapa hal yang membuat orang terkadang ingin menulis puisi ataupun membuat kata-kata indah. 

Inilah 6 alasan mengapa terkadang kamu ingin membuat puisi:


 1.  Sedang jatuh cinta 



Cinta memang membuat kita terkadang seolah lupa dengan segalanya. Apa saja bisa dilakukan untuk cinta. Kalau kita sedang naksir sama seseorang, biasanya kita suka membuat kata-kata atau puisi. Misalnya untuk nembak cewek. Biasanya seorang cowok kalau sudah suka sama seorang cewek, secara tiba-tiba dia jadi jago menulis puisi, kemudian puisi itu diberikan ke cewek yang dia taksir.




2.  Tugas sekolah

 

Pelajaran wajib yang pasti ada di sekolah adalah mata pelajaran bahasa. Terutama bahasa Indonesia. nah, dalam pelajaran itu pasti ada bab yang mempelajari tentang puisi. Biasanya pada saat menerangkan pelajaran itu, guru kita di sekolah memberikan tugas ke kita untuk membuat satu puisi karya sendiri. Walaupun kita ga suka puisi, ya mau ga mau kita harus buat demi mendapatkan nilai bagus.






3.  Mengikuti lomba


 

Memang, kalau untuk mengikuti lomba itu adalah hak masing-masing orang. Tapi, ga menutup kemungkinan, terkadang dari sekolah adaa aja yang ngirim satu murid untuk mengikuti lomba. Termasuk lomba puisi. Nah biasanya nih guru-guru akan memilih anak murid yang dianggap jago dalam pelajaran bahasa Indonesianya. Atau murid yang memang sudah sering jadi juara di lomba yang sama.





4.  Sedang tren




Generasi 90an pasti tau dong film Ada Apa Denga Cinta? Yang sekarang sekuel keduanya juga lagi dibikin. Dalam film si pemeran utama Rangga dan Cinta adalah anak SMA yang seneng banget sama puisi. Ceritanya si Cinta (yang diperankan Dian Sastro) adalah anak ekskul mading yang udah jadi juara bertahan di lomba-lomba puisi. Tiba-tiba dalam satu lomba dia kalah oleh Rangga (Nicholas Saputra) yang puisinya lebih bagus. Di film itu puisi-puisi mereka dibacakan dan dinyanyikan juga oleh Cinta. Dampak dari film itu, akhirnya puisi-puisi mereka jadi terkenal termasuk nama pengarang aslinya, Rako Prijanto. Dari film itu juga akhirnya banyak anak muda yang suka bikin puisi.




5.  Putus cinta atau galau


 

Kalau tadi kita bisa jago bikin puisi saat jatuh cinta, gimana saat putus cinta ?

Ini justru bisa lebih jago lagi. Rata-rata orang malah bikin puisi untuk meluapkan perasaannya yang saat itu sedang galau gundah gulana karena putus cinta atau patah hati. 




6.  Terlahir sebagai pujangga


 

Ga ada alasan khusus, kalo ini emang udah ditakdirkan jadi pujangga sejati. Biasanya sekolah atau jurusannya saat kuliah adalah di bahasa dan sastra. Mau bikin puisi kaya apa juga bagus aja deh.



Itulah beberapa hal yang terkadang membuat kamu ingin menulis puisi. Bagi beberapa orang, membuat puisi itu tidak mudah loh, pasti kita membutuhkan inspirasi untuk bisa membuat puisi yang bagus dan menyentuh hati. Bagi kamu yang ingin mempelajari tentang puisi, bisa melihat karya-karya pujangga yang sudah maestro dalam dunia perpuisian ini, misalnya seperti Chairil Anwar, Khalil Gibran, Andrea Hirata, Dewi Lestari dan lain-lain.

Ditambah lagi sekarang sudah ada sosial media yang bisa membantu kamu untuk mengasah kemampuan dan bakat dalam menulis, salah satunya adalah sinekdok.com.

So, berpuisi itu memang ga mengenal tempat dan waktu. Kita bisa berpuisi dimana saja dan kapan saja.  




Thursday, January 28, 2016

Inilah 6 Perbedaan Sinetron Jaman Dulu dan Sekarang

Perkembangan serial televisi Indonesia atau yang lebih kita kenal dengan istilah sinetron hingga saat ini masih terus eksis menemani layar kaca pemirsanya, bahkan semakin hari semakin variatif saja. Apalagi dengan banyaknya sinetron stripping yang tayang setiap hari. Dari segi bisnis, sinetron stripping memang sangat menguntungkan, namun lama-kelamaan karena dikejar tayang, ceritanya jadi terkesan dipaksakan. 

Bila kita mengikuti perkembangannya dari masa ke masa, sinetron Indonesia sekarang sangat berbeda dibandingkan pada era sekitar 90/80 an kebelakang. Sinetron saat ini semakin berorientasi pada rating atau bisnisnya, namun tidak memedulikan kualitas ceritanya. Akhrirnya banyak sinetron yang dibuat untuk kejar setoran dengan cerita yang asal-asalan. Meskipun tetap banyak digemari.

Berikut ini adalah beberapa contoh perbedaan-perbedaan sinetron dulu dan sekarang :


1. Jumlah episode.



Kalau Anda ingat bahwa di tahun 90an ke belakang, sinetron Indonesia biasa ditayangkan dengan jumlah episode yang tidak banyak, artinya bisa dihitung lah. Mungkin sekitar 20 -100 episode. Kalau saat ini kita bisa lihat sinetron Indonesia yang jumlahnya sampai ratusan bahkan ribuan episode.



2. Jam tayang.


Kalau jaman dulu sinetron Indonesia biasa tayang seminggu sekali, misalnya sinetron Tersayang tayang setiap Rabu jam 8-9 malam atau Tersanjung setiap Jumat jam 8-9 malam. Tapi sekarang kita ga perlu lagi takut kelewatan episode-episode sinetron karena besok, lusa, dan seterusnya masih akan tetap ada. Maklum, kan sekarang sistemnya stripping dan kejar tayang. 



3. Pemain yang kebanyakan blasteran.


Para pemain sinetron Ganteng-ganteng Srigala
Sinetron Indonesia saat ini lebih banyak dipenuhi oleh artis-artis yang wajahnya kebule-bulean alias blasteran. Karena wajah blasteran dianggap lebih cantik dan ganteng, ini dijadikan modal agar sinetron atau film Indonesia tetap banyak ditonton masyarakat. Berbeda dengan jaman dulu artis-artis seperti Anjasmara, Rano Karno, Gunawan, Jihan Fahira, Maudy Koesnaidy, Paramitha Rosadi, mereka adalah artis-artis yang berwajah tampan dan cantik tetapi tetap produk lokal.



4. Punahnya sinetron anak.



Sinetron anak (biasanya ditonton dan diperankan oleh artis cilik) sekarang ini sepertinya sudah tidak bisa kita temukan lagi di televisi Indonesia. Padahal jaman dulu ada sinetron anak seperti Anak Ajaib, Panji Manusia Milenium, Saras 008, Keluarga Cemara, Bidadari yang setidaknya pernah menghibur kita di masa kanak-kanak. Tapi sekarang, hampir tidak ada sama sekali.



5. Pemeran utama tiba-tiba menghilang.


Peran utama adalah bagian terpenting dari sebuah sinetron. Namun apa jadinya kalau pemeran utama justru menghilang perannya di sinetron tersebut. Ini yang terjadi di jaman sekarang, karena berbagai alasan, pemeran utama bisa menghilang loh dari sinetron, misalnya yang terjadi pada sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Kalau Anda tau siapa tokoh utama yang berperan sebagai si tukang bubur di awal kemunculan sinetronya, apakah dia masih ada di sinetron tersebut?





6. Original Soundtrack


Petikan soundtrack sinetron Tersanjung
Kalau dulu setiap sinetron memiliki soundtrack musiknya sendiri-sendiri sesuai judulnya. Misalnya sinetron Tersayang , judul lagunya Tersayang, sinetron Tersanjung judul lagunya pun Tersanjung, bahkan sinetron Tuyul dan Mbak Yul judul lagunya juga Tuyul dan Mbak Yul. Tapi sekarang, sinetron lebih memilih untuk mengambil lagu yang sudah jadi, dengan memakai lagu dari penyanyi yang memang lagunya sudah popular duluan sebelum sinetron itu tayang. Misalnya sinetron Tukang Bubur Naik Haji menggunakan lagu Opik yang judulnya Haji, sinetron GGS yang menggunakan lagu dari band Utopia-Mencintaimu Sampai Mati, dan sebagainya.

So, jadilah penikmat sinetron yang cerdas, kita dukung terus karya sineas Indonesia agar terus melahirkan karya yang menginspirasi dan bermanfaat di masyrakat.



Thursday, January 14, 2016

PDS HB Jassin, Warisan Sang “Paus Sastra Indonesia”

 

Bagi Anda yang belum pernah mengunjungi Taman Ismail Marzuki, Jakarta, nama sastrawan besar Indonesia HB Jassin mungkin terdengar asing di telinga, kecuali jika Anda memang benar-benar pecinta sastra dan sejarahnya.

Di TIM inilah terdapat Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (PDS HB Jassin) yang banyak menyimpan benda-benda “pusaka” sastra Indonesia, yang disimpan dan didokumentasikan sejak zaman penjajahan oleh HB Jassin. HB Jassin sendiri merupakan penulis sekaligus kritikus sastra pada sekitar tahun 1930an. Ketika itu ia sengaja berinisiatif untuk mengumpulkan dan menyimpan karya-karya otentik penulis-penulis atau pelaku sastra pada masa itu. Hingga ia pun dijuluki sebagai “Paus Sastra Indonesia”.

Berkat usahanya dalam melestarikan sastra Indonesia, HB Jassin mendapat dukungan dari gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, sehingga pada tanggal 28 Juni 1976, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin resmi didirikan dan berlokasi di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Di gedung yang tidak terlalu besar dan terletak di jalan yang sempit itu, terdapat beberapa koleksi karya sastra berupa buku-buku fiksi, non-fiksi, naskah drama, biografi, foto-foto pengarang, kliping, makalah, skripsi, disertasi, rekaman suara, dan rekaman video. Sejumlah surat-surat pribadi dari kalangan sastrawan-sastrawan ternama seperti Chairil Anwar, NH Dini, Ajib Rosidi, dan Iwan Simatupang juga disimpan di tempat ini. 

Surat pribadi Chairil Anwar

Surat Peresmian Gubernur Ali Sadikin

PDS HB Jassin menjadi tempat yang harus didukung dan dikembangkan. Pasalnya, tempat tersebut merupakan satu-satunya yang menyimpan data dan dokumentasi khusus kesusasteraan Indonesia. Bahkan tempat itu juga memiliki koleksi sastra terjemahan dari berbagai Negara. Jadi kita tidak perlu jauh-jauh untuk melihat karya sastra luar negeri. Namun sayang, tidak banyak masyarakat yang berkunjung setiap harinya ke tempat itu. Mungkin hanya sekitar 20an orang per harinya. Padahal lokasi yang berada di kompleks TIM, tempat dimana terdapat sebuah kampus, seharusnya menjadi sumber informasi bagi setiap mahasiswa. Memang, sekali waktu ada yang melakukan kunjungan dari Universitas, namun tidak banyak.

PDS HB Jassin merupakan tempat yang tepat bagi Anda yang ingin mengetahui dan mempelajari tentang karya sastra lama Indonesia. Di sana Anda akan temukan berbagai dokumen-dokumen peninggalan sastrawan-sastrawan besar Indonesia, tetapi Anda tidak bisa bebas membaca dokumen-dokumen di dalam perpustakaannya, dan juga tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang. Ada petugas khusus yang melayani. Hal ini untuk menjaga benda-benda tersebut agar tidak rusak atau hilang. Namun, jangan khawatir, Anda tetap diperbolehkan untuk membacanya di tempat. Di sana juga disediakan fasilitas untuk Anda memfotocopy buku-buku yang Anda inginkan. Jika Anda ingin berkunjung ke PDS HB Jassin ini, Anda dapat datang pada hari Senin sampai Jumat yang dibuka pukul 08:30 hingga 15:30 WIB. Adapun gedung PDS HB Jassin terletak di Lantai 2 Gedung Galeri Cipta II, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat.

Thursday, January 7, 2016

Andrea Hirata, Salah Satu Sastrawan Indonesia yang Dipandang Dunia

Laskar Pelangi bisa dikatakan menjadi ikon berkembangnya kembali sastra Indonesia. Berkat kecerdikan Andrea Hirata dalam memainkan kata sehingga menyihir pembacanya untuk masuk ke dalam kisah nyata hidupnya tersebut. 



Debut novel yang diangkat dari kisah nyata tentang sulitnya masyarakat Pulau Belitung dalam menempuh pendidikan tersebut telah sampai ke mata pembaca-pembaca di luar Indonesia. Hingga diterjemahkan ke dalam 34 bahasa di 130 Negara di dunia.


Beberapa waktu lalu bahkan Andrea Hirata berhasil meraih gelar Doktor Kehormatan di bidang sastra dari Universitas Warwick Inggris, karena dinilai berkontribusi terhadap kesusastraan internasional selama delapan tahun terakhir. 


Sejak meluncurkan novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata memang telah berkiprah dalam penerbitan buku dalam skala internasional, dan aktif dalam berbagai festival buku dan pengajaran sastra di kampus-kampus luar negeri.


Ini merupakan sejarah yang patut dibanggakan oleh kalangan sastrawan di Indonesia, karena ini merupakan suatu bukti bahwa karya sastra Indonesia mulai di pandang.

Sunday, November 15, 2015

Sekadar Jeda Bahasa; Ungkapan Idiomatis

Bahasa dan sastra adalah kata yang berbeda dan memiliki makna yang berbeda. Namun, keduanya saling terkait satu sama lain dan tak bisa dipisahkan. Khasanah bahasa begitu luas cakupanya. Termasuk ketika kita membicarakan bahasa kebanggaan kita, Bahasa Indonesia. Banyak hal menarik yang dapat dibahas dari sebuah bahasa, salah satunya ungkapan idiomatis. Dalam ilmu bahasa ada yang disebut dengan idiom atau ungkapan atau juga kata kiasan. Seorang redaktur bahasa di salah satu media cetak ibu kota bernama Irmina Irawati, pernah menuliskan sebuah artikel mengenai ungkapan idiomatis dalam bukunya yang berjudul "Sekadar Jeda Bahasa; Menemani Minum Teh Anda". Berikut adalah kutipan artikel tersebut.

Ungkapan idiomatis merupakan rangkaian dua kata yang menghasilkan makna idiom atau kiasan. Rangkaian kata tersebut begitu erat menyatu, sehingga masing-masing kata tidak bisa diganti dengan kata lain yang menghasilkan makna yang sama. Namun, kebanyakan dari sejumlah kata kiasan tersebut sebenarnya setiap rangkaian dua kata itu juga memiliki arti yang sebenarnya atau arti yang bukan kiasan.

Banyak sekali contohnya. Sebut saja beberapa di antaranya seperti; adu domba, banting setir, banting tulang, busung dada, hidung belang, jago merah, kambing congek, kambing hitam, kepala batu, kepala dingin, kutu buku, kutu loncat, lapang dada, macan ompong, macan tidur, naik daun, panjang tangan, pepesan kosong, ringan tangan, tahi lalat, tangan dingin, turun gunung, turun ranjang.

Contoh yang pertama, adu domba. Kata yang satu ini jelas tidak dapat diganti dengan adu kerbau atau adu macan. Padahal, jelas-jelas yang diadu dalam maksud kata tersebut adalah orang atau manusia. Sebab, adu domba merupakan kata kiasan. Kalau yang bukan kiasan, misalnya adu jotos ataupun adu penalti.

Khususnya untuk kata banting setir, yang sudah tentu memiliki dua makna, yakni makna yang sebenarnya dan makna kiasan. Dalam bahasan kita tentunya yang dibahas adalah yang bermakna kiasan. Banting setir dimaknai sebagai mengubah arah ataupun mengganti haluan. Misalnya dalam hal pekerjaan, kegemaran ataupun kebiasaan.

Berdekatan dengan kata banting setir ada banting tulang. Ungkapan idiomatis yang ini dimaknai sebagai bekerja keras. Nah, mengapa tidak dikatakan sebagai bekerja berat ataupun bekerja giat? Rupanya bekerja keras itu sendiri sudah merupakan kata idiomatis.

Lain lagi halnya untuk menggambarkan lelaki yang mudah sekali menunjukkan rasa suka -atau bahkan iseng- kepada perempuan lain yang bukan istrinya, maka ia disebut hidung belang. Ungkapan idiomatis hidung belang ini tentunya tidak bisa digantikan dengan pipi belang ataupun hidung bengkok, misalnya. Padahal, si lelaki yang dimaksudkan tersebut sesungguhnya tidak memiliki hidung yang belang. Bisa jadi hidungnya normal atau polos-polos saja.

Begitu pula dengan kutu buku. Ungkapan idiomatis ini untuk menggambarkan seseorang yang suka sekali membaca buku, tidka terbatas pada buku tertentu, tetapi buku mengenai apa saja. Kutu buku tidak bisa digantikan dengan kutu kitab ataupun nyamuk buku.

Bagaimana dnegan kutu loncat? Ungkapan idiomatis ini biasanya untuk melukiskan seseorang yang suka berpindah-pindah pekerjaan. Khusus mengenai pekerjaan saja. Bukan berpindah-pindah rumah ataupun berpindah-pindah menjajal makanan dari warung ke warung., atau pula berganti-ganti pacar, misalnya. Tentu pula, kutu loncat tidak bisa digantikan dengan bajing loncat ataupun kutu terbang.

Nah, lain lagi dengan naik daun. Ungkapan idiomatis ini untuk menyebut seseorang (artis, pengusaha, pejabat, ulama, dsb.) atau sebuah produk (sabun atau bahkan lagu), sebuah merek sebuah perusahaan, yang sedang menjajak keterkenalan nama atau popularitasnya. Pastinya, naik daun pun tidak bisa digantikan dengan naik pohon atau pun pucuk daun. Padahal, sebenarnya yang biasanya naik daun itu kan ulat ya.

Satu lagi contohnya. Sebut saja tahi lalat atau yang dalam bahasa Jawa disebut andeng-andeng. Tanda tersebut merupakan sebentuk titik kecil berwarna hitam atau cokelat, dapat pula berupa sebentuk kecil daging tumbuh, yang terlihat di permukaan kulit di bagian tubuh mana saja. Sudah tentu, ungkapan idiomatis tahi lalat ini tidak dapat digantikan dengan tahi kerbau ataupun berak lalat, misalnya.

Sunday, November 1, 2015

Welcome to Sinekdok.com

Karya sastra di Indonesia mungkin tidaklah menempati posisi yang banyak diminati oleh masyarakatnya. Tingkat minat baca tulis adalah hal yang paling berpengaruh terhadap perkembangan karya sastra di Indonesia. Selama minat baca tulis masyarakat tinggi, karya sastra juga akan bergerak lurus sejalan dengannya. Namun pada kenyataannya, sudah bukan rahasia lagi jika minat baca tulis masyarakat Indonesia sangat rendah. Sehingga minat terhadap karya sastra pun akhirnya juga ikut runtuh.

Di sisi lain sarana bagi para penulis pun juga sangat minim. Ruang untuk para penulis menuangkan karyanya belum cukup memadai. Berbagai permasalahan seperti penerbitan, plagiasi, dan lain-lain menjadi kendala yang dirasakan oleh para penulis.

Untuk itu, masyarakat dan pemerintah sudah sepatutnya bekerja sama dalam memberikan ruang bagi para penulis. Pemerintah dapat membangun ataupun sekedar mendukung pengadaan sarana bagi para penulis dengan berbagai cara. Sementara masyarakat juga turut berpartisipasi dalam mengapresiasi karya sastra, salah satunya adalah dengan berkarya.

Dalam berkarya sastra, tidak semua bentuk karya dapat diminati. Salah satu bentuk karya sastra yang kini sudah jarang di tengok adalah puisi. Ketertarikan pembaca atau penulis terhadap karya sastra yang satu ini memang sudah tidak se-antusias pada tahun ’45 sampai ‘70an. Di tahun-tahun tersebut, banyak peristiwa-peristiwa besar yang dituangkan ke dalam karya sastra puisi. Sehingga pada kisaran tahun tersebut dapat dikatakan bahwa karya sastra sedang dalam puncak kejayaannya.

Dari latar belakang tersebut serta ketertarikan kami pada karya sastra, maka kami mencoba membuat suatu platform yang diharapkan dapat membangkitkan kembali kejayaan kesusastraan Indonesia. Tepat hari ini, Minggu, 1 November 2015, kami resmi merilis sinekdok.com, sebuah media yang diperuntukkan bagi semua kalangan yang memiliki ketertarikan pada dunia penulisan sastra. Sinekdok menjadi media untuk berbagi dan menuangkan karya-karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, kata-kata motivasi, quote bergambar, bahkan musikalisasi puisi, yang semuanya dikemas dalam bentuk interaksi di media sosial. Mengapa dikemas dalam bentuk interaksi media sosial? Karena kami ingin menciptakan kesan bahwa berkarya sastra bisa dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan. 

Selain itu, sinekdok juga memberikan kesempatan pada semua penulis yang menuangkan karyanya, untuk kemudian bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Tidak hanya itu, konten yang menarik dari penulis juga dapat dijadikan produk-produk yang bernilai jual, seperti ; kaos, wood painting, mug, dan lain-lain yang nantinya penulis akan mendapatkan royalty dari penjualan produk tersebut. Dengan begitu, diharapkan sinekdok dapat memperkaya sastra Indonesia serta melahirkan sastrawan-sastrawan baru yang kompeten.
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut

Copyright © Sinekdok Official | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑